• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
Kamis, Agustus 18, 2022
KILAS BANDUNG
  • Home
  • Kilas Bandung
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Polhukam
  • Wisata
  • Sosialita
  • Komunitas
  • Ramadhan
  • Tips
No Result
View All Result
  • Home
  • Kilas Bandung
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Polhukam
  • Wisata
  • Sosialita
  • Komunitas
  • Ramadhan
  • Tips
No Result
View All Result
KILAS BANDUNG
Home Ekonomi

Lahan Telah Terjual, Tapi Slamet Tetap Menabur Benih

by redaksi
17 Januari 2021
in Ekonomi
0
Lebih dari 500 Hunian Rohingya di Cox’s Bazar Terbakar

Slamet ketika ditemui Tim Global Wakaf - ACT di tengah lahannya. (Kredit foto : ACTNews)

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Kilasbandung.com, SIDOARJO – Sudah tiga kali Slamet mengalami gagal panen, sampai modalnya pun kini telah habis. Anak-anaknya enggan berprofesi sebagai petani, dan lebih memilih menjadi buruh pabrik di sebuah industri kerupuk yang berada di sekitar desanya sebab kepastian pendapatan. “Tidak dengan bertani yang pendapatannya tak tentu,” ujar Slamet ditemui Rabu (3/1/2021) lalu.

Kegagalan yang dialami Slamet tidak terlepas dari keterbatasan pengetahuannya dalam pengembangan tani. Ia bercerita lahan kini sudah tercemar dan inovasi pertanian dibutuhkan. Berbeda dengan dahulu, hanya dengan pupuk kandang persawahannya tumbuh subur. Belum lagi bila bicara hama, berbagai pupuk kimia sekalipun tak mempan membasminya, terutama hama tikus.

Walau bagaimanapun, kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan keinginannya untuk terus meladang. Hal ini juga tidak terlepas dari kewajiban untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pukul 6 pagi ia menjadi buruh tani mengarap sebidang lahan sawah berukuran 1.600 m2 dengan upah Rp70 ribu. Lalu pada siang harinya ia mengarap lahan yang ia sewa sebesar Rp700 ribu per tahun.

Baca Juga:  Produksi Gerobak Wakaf Bantuan UMKM Terus Berlanjut

Dorongan untuk menggarap lebih dari satu lahannya juga disebabkan harga tanah semakin murah di desanya, sebab menurut Slamet tidak banyak orang yang ingin mengolah lahan persawahan saat ini. “Kegagalan panen yang terus mereka derita, petani di dusun pun hanya tinggal 7 orang,” ujar warga Dusun Kepodangan, Desa Kepadangan,Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo ini.

BACAJUGA

Syarat Zakat Mal Menjadi Wajib

Zakat Penghasilan dari Warung Kelontong

Kenapa Sebaiknya Berzakat melalui Lembaga Amil Zakat?

8 Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

5 Peluang Usaha Minim Modal di Tahun 2022

Slamet salah satu yang sepuh di antara mereka. Tetapi bertani sejak tahun 1972, dan memasuki usia 66 tahun tak menyurutkan semangatnya untuk menjejaki tanah sawah. Dahulu Slamet memang memiliki lahan persawahan, yang kemudian harus ia jual guna memenuhi kebutuhannya hidupnya. Sebagian lahan tersebut juga ia bagikan untuk anak-anaknya, tetapi tak ada niatan untuk diolah dan akhirnya pun juga ikut dijual.

Baca Juga:  Aca Siap Wujudkan Cabang Kedua Usahanya dengan Pendampingan Usaha Wakaf UMKM

Untuk membantu ikhtiar Slamet, Global Wakaf – ACT menyalurkan bantuan Wakaf Modal Usaha Mikro kepadanya. Bantuan telah diberikan pada Desember 2020 lalu. Bersama Slamet, ada 8 orang di Desa Kepadangan. “Kita berharap bantuan ini dapat mendorong produksi lahan mereka. Kami juga ingin meluaskan kebermanfaatan ini ke petani-petani lainnya, dan untuk itu kami juga mengharapkan kepedulian dari para dermawan sekalian,” kata Muhammad Fadli dari Tim Global Wakaf – ACT. [Sumber : news.act.id]

Tags: Masyarakat Produsen Pangan IndonesiaPemberdayaan PetaniModal Petaniwakaf modal usaha mikro
redaksi

redaksi

Related Posts

Syarat Zakat Mal Menjadi Wajib
Ekonomi

Syarat Zakat Mal Menjadi Wajib

2 Mei 2022
Zakat Penghasilan dari Warung Kelontong
Ekonomi

Zakat Penghasilan dari Warung Kelontong

9 April 2022
Kenapa Sebaiknya Berzakat melalui Lembaga Amil Zakat?
Ekonomi

Kenapa Sebaiknya Berzakat melalui Lembaga Amil Zakat?

11 April 2022
salah satu golongan mustahik adalah
Ekonomi

8 Golongan Orang yang Berhak Menerima Zakat

5 Januari 2022
Next Post
Minim Bantuan, Penyintas Gempa Majene Bertahan di Pengungsian Seadanya

Minim Bantuan, Penyintas Gempa Majene Bertahan di Pengungsian Seadanya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular News

  • snmptn unpad 2021

    Ingin Kuliah di Bandung? Ini Nilai Rata-rata Rapor SNMPTN Unpad

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Soju Halal Atau Haram? | Begini Faktanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satukan Solidaritas! Dukung Perjuangan Muslimah India untuk Keadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedekah Subuh | Keutamaan dan Tata Cara Lengkap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dusun Bambu, Objek Wisata Alam Terfavorit di Kawasan Lembang, Bandung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hidden Gem di Bandung, Cocok untuk Libur Lebaran 2022

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
KILAS BANDUNG

© 2020 Kilas Bandung

Navigate Site

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Kilas Bandung
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Polhukam
  • Wisata
  • Sosialita
  • Komunitas
  • Ramadhan
  • Tips

© 2020 Kilas Bandung